Selasa, 02 Desember 2008

Lok "hilang" pada penjajahan Jepang dan setelahnya

Meskipun mayoritas lok-lok yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan kereta api pada masa penjajahan Belanda terus dipakai oleh perusahaan KA Indonesia pada era kemerdekaan, tidak semua seri lok yang namanya kita kenal benar-benar pernah digunakan. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

Lok C52, kelas yang hilang?

Mungkin sudah merupakan “pengetahuan umum” bahwa lokomotif seri C52 tidak pernah dipakai lagi di Indonesia setelah perang kemerdekaan. Memang benar bahwa lokomotif yang semula bernomor 381-400 milik NIS G/S ini tidak pernah dipakai oleh perusahaan kereta api Indonesia. Tapi apakah tak satupun lok ini masih bertahan di Indonesia, paling tidak hingga masa perang kemerdekaan?

Berikut ini adalah saduran dari sebuah tabel dari Jan de Bruin, Het Indische Spoor in oorlogstijd (hal. 194), tentang nasib masing-masing lok seri C52 setelah mereka dikonversi untuk bisa berjalan di rel selebar 1000 mm (dari semula 1067 mm)

· C521 dan C526:
ke Malaya, kemudian dipindahkan ke Kamboja, dinomor ulang 230-001 dan 230-002

· C522, 3, 12, 15, 16, 17 dan 19:
ke Muangthai, dinomor ulang 751-757 (urut), dijual oleh SS/VS (pengelola KA di daerah yang diduduki Belanda pada masa perang kemerdekaan) dan dibesituakan sekitar tahun 1955, kecuali C52.19 yang dipensiunkan tahun 1946 setelah kecelakaan

· C524, 5, 7, 8, 9, 11, 13, 14, 18 dan 20:
ke Malaya, dikembalikan ke Indonesia tahun 1949, dibesituakan (karena sudah telanjur disempitkan jarak antar rodanya)

· C5210:
tertinggal di Balai Yasa Yogya, dibesituakan (karena sudah telanjur disempitkan jarak antar rodanya)

C30, juga nyaris hilang

Nasib serupa dialami setidaknya 14 buah lok seri C30 (SS kelas 1700) masa penjajahan Jepang. Lok-lok yang berbasis di Jawa ini (selain nomor 1701-1721 yang ada di Jawa, nomor 1761-1783 ada di Sumatera Selatan dan 1791-1793 di Sumatera Barat) juga dibawa ke Malaya. Empat di antaranya terdampar di Kamboja, dinomor ulang 131-001 hingga 131-004.

· Tujuh lok dijual oleh SS/VS ke Indocina (tidak disebutkan ke negara mana).

· Tiga lok dibawa ke jalur Muaro-Pekanbaru yang dibangun oleh para romusha. Salah satunya tertinggal di tempat bernama Silokah.

Lok-lok “breedspoor”

Sementara itu, apa yang terjadi dengan lok-lok “breedspoor” (lok dengan jarak antar rel 1435mm)? “Konon” mereka dikirimkan ke Manchuria, demikian dikatakan banyak penulis. Namun, sebenarnya tidak satupun dari mereka sempat dibawa ke luar negeri. Beberapa dari rekan-rekan yang penggemar sejarah perang mungkin memahami bagaimana Jepang tercekik oleh perang kapal selam besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat, hingga praktis hubungan antara Jepang dan koloni-koloninya terganggu.

Berikut ini saduran dari suatu daftar (memo internal NIS) yang dikutip dari sumber yang sama di atas.

· Jenis B1

· 19 dipreteli, disiapkan untuk dikirim di Semarang.

· 23 dan 28 dalam kondisi baik tanpa tender, beberapa komponen tidak ada.

· Jenis 1’C1’ (t)
51-57 dalam kondisi tidak siap pakai setelah disimpan sejak tahun 1929 di Yogya

· Jenis 1’D
63 dipreteli dan disiapkan untuk dikirim di Yogya

· Jenis 2’C

· 81-83 kekurangan kecil, namun selebihnya baik, di Semarang.

· 84 dan 86 dalam kondisi tidak siap pakai setelah disimpan sejak tahun 1929 di Yogya

· 85 dan 89 dipreteli, komponennya dipak, di Priok

· 90, 91, 93 banyak kekurangan, di Semarang

· 92 dan 94 dipreteli, disiapkan untuk dikirim di Semarang

· Jenis C (t)

· 106 berjalan hingga bulan Agustus 1945 di pelabuhan Semarang

· 152 dipreteli, disiapkan untuk dikirim di Semarang

· 4 lok lain dari seri 151-160 mengalami kerusakan silinder, di Yogya

Lok-lok lain semua ada di Yogya atau Semarang, tanpa keterangan mengenai kondisi. Di halaman 201 buku tersebut terdapat foto lok no. 121 pada tahun 1956 di belakang Balai Yasa Pengok, juga dalam CD foto Rob Dickinson Incredible Indonesia terdapat dua foto yang menggambarkan sebuah lok tipe B1 dan C(t) pada tahun 1970-an. Komentar tambahan pada foto tersebut (dan juga pengamatan langsung) menunjukkan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi sisa-sisa dari lok-lok tersebut.

Lok-lok “breedspoor” ini tidak pernah dinomor ulang oleh Jepang menjadi seri Bxx.x atau Cxx.x.

Sisa jalur “breedspoor” antara lain adalah sebuah bogie di Balai Yasa Manggarai (dilihat tahun 2003) dan sebuah gerbong jenazah milik Kasunanan Solo (yang memang “convertible” ke rel dengan jarak lebar 1067 mm).

Sebagian besar material yang dapat diidentifikasi sebagai milik perusahaan-perusahaan KA di Hindia Belanda, seperti gerbong barang dan rel memang dikembalikan, sayangnya pada saat pengembalian itu, Belanda masih berkuasa….

DD50, kelas yang tidak pernah ada

Perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen memiliki 20 lok Mallet dengan susunan roda (1’D)’D buatan pabrik lokomotif Alco, Amerika Serikat, pada tahun 1916-1919. Lok-lok ini datang dalam dua seri: 1201-1208, dan 1212-1220. Antara kedua seri ini terdapat sejumlah perbedaan detil, dan seri kedua sedikit lebih baik. Pada masa penjajahan Jepang, pada akhir tahun 1942, lok-lok dari seri pertama dinomor ulang menjadi DD50, dan dari seri kedua menjadi DD51.

Namun, lok-lok 1201-1208 sebenarnya hanya “kelas kertas,” artinya hanya ada dalam buku, dan tidak ada dalam kenyataan. Depresi besar yang melanda dunia pada tahun 1929 menyebabkan banyak kelas lok SS terpaksa disimpan, termasuk seri 1201-1208 yang telah dibongkar sebelum tibanya Jepang. Jadi lok-lok ini memang bernasib sial, tidak berumur sepanjang adik-adiknya yang sempat dipakai hingga tahun 1968-9 (hingga awal tahun 1980-an mungkin sisanya masih bisa ditemukan di Purwakarta, Surabaya Sidotopo dan Madiun).

Lok-lok SS lainnya yang sempat dikonservasi, namun bernasib lebih baik antara lain lok seri 600 (B51), 900 (D50), 1250 (DD52) 1400 (D14). Selain seri 600 yang hendak dipensiunkan secepatnya (namun ternyata bertahan hingga tahun 1984 di jalur Rangkasbitung!), lok-lok ini diperbaiki lagi pada akhir dekade 1930-an, bahkan untuk kedua seri D ini diperbaiki hingga mampu mencapai kecepatan jauh lebih tinggi daripada rancangan aslinya.

Lok yang digunakan di jalur Muaro-Pekanbaru

Ada beberapa lok yang sempat dikirim oleh Jepang untuk pembangunan (dan untuk pemakaian) di jalur Muaro-Pekanbaru, yang diselesaikan tepat pada hari menyerahnya Jepang kepada Sekutu, antara lain beberapa lok SCS seri 200 (kemudian menjadi C54), lok SS seri 600 (B51) dan 1700 (seperti telah ditulis di atas), lok DSM nomor 7 dan 56 (tipe B1(t)), 30 (tipe B(t)), 60 dan 66 (tipe 1’B1’(t)). Hanya dua lok yang disebut terakhir yang dikembalikan ke pemilik sahnya, karena sisanya keburu terjebak jembatan-jembatan yang runtuh di jalur tersebut. Di halaman 115-119 terdapat foto-foto lok dan gerbong yang terjebak di antara hutan belantara Sumatera, yang diambil gambarnya pada tahun 1984.

Inkonsistensi penomoran ulang oleh Jepang

Terakhir, sedikit inkonsistensi dalam penomoran ulang oleh Jepang. Seri B12 mencakup lok-lok tram eks SJS (no. 40-61) dan OJS (no. 13-38) (tidak semuanya). Ini sebenarnya hal yang logis karena kedua perusahaan ini menggunakan lok yang desainnya serupa.

Namun, lok seri C13 dan C22 yang juga sebenarnya sama persis, dibedakan menjadi dua kelas. C13 dimiliki oleh SS, dan C22 dimiliki oleh Passoeroean Stoomtram Mij. Keduanya sama-sama bekas milik sebuah proyek irigasi lembah Bengawan Solo yang gagal yang dijual ke SS, baru kemudian sebagiannya dijual ke PsSM.

Lok NIS seri 250-263 dibagi menjadi empat kelas lok: C16, C17, C18 dan C23. Seri C18 dan C23 masing-masing hanya memiliki satu lok. Semua lok ini aslinya serupa, hanya ada yang telah dipasangi superheater dan/atau klep piston. Demikian juga seri 371-400 dibagi menjadi dua kelas: C51 dan C52, padahal perbedaannya hanya sedikit.

Anehnya, lok SS seri 800 (F10) hanya menjadi satu kelas, padahal 2 lok terakhirnya (buatan Hanomag) memiliki perbedaan yang tidak kurang dari perbedaan antar lok-lok di atas. Demikian pula lok SS seri 521-543 dan 551-561 (yang aslinya saja pun sudah jelas dianggap sebagai dua kelas) semuanya digabungkan menjadi satu kelas, CC10.

Terakhir, lok D12.1. Lok ini sebenarnya sama dengan seri C25, dan kemungkinan merupakan kesalahan administratif semata hingga menjadi satu kelas yang terpisah. Lok D12.1 ini kemudian diganti nomor menjadi C2506, yang sampai dekade 1980-an masih terlihat di sekitar Pasuruan.

Mungkin perlu diperhatikan bahwa penomoran asli Jepang berformat seperti ini: BB106 (lihat foto hal 121) tanpa titik, tanpa spasi. Kemudian ada pula format menggunakan titik, seperti B22.14 (lihat foto hal.146), yang mestinya lebih jelas dibandingkan format di atas. Angka nol di depan nomor untuk lok bernomor kurang dari 10 (01-09) kemungkinan baru dipakai setelah tahun 1950, dengan munculnya lok seri D52 (tepatnya, D 52001 sampai D 52 100, perhatikan spasi antara huruf dan angka).

Pada masa SS/VS, sebagian lok yang dikelolanya dikembalikan lagi ke nomor aslinya, misalnya C505 dikembalikan menjadi 710 SS (hal. 145) dan B22.14 yang juga memakai nomor NIS 319 sekaligus juga pelat nama “J. Kraus” (hal. 146). Jadi tidak tepat juga anggapan bahwa nomor seri a la Jepang ini digunakan tanpa perubahan sejak tahun 1942 hingga kini.

Di masa kini, untuk konsistensi mungkin seharusnya lok seri CC 201 01 hingga CC 201 139 dinomor ulang mulai dari CC 201 001 (perhatikan jumlah digit). Namun, dalam pendapat saya sistem penomoran ini bisa disederhanakan, karena di masa depan jumlah as penggerak (huruf BB atau CC), dan juga nomor awal (1xx=transmisi mekanik, 2xx=transmisi elektrik, 3xx=transmisi hidraulik) tidak relevan lagi. Jumlah as penggerak baru relevan pada lok uap, karena berkaitan dengan traksinya, sementara di masa depan, kemungkinan besar kita hanya akan menggunakan lok dengan transmisi elektrik. Mungkin di masa depan kita bisa kembali menggunakan sistem penomoran yang seluruhnya menggunakan angka.

Dari Indra Krishnamurti

2 komentar:

Kemal Fikri R mengatakan...

Pak, buku het indische spoor in oorlostijd itu isinya memakai bahasa ap?

Kemal Fikri R mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.